Dimakan labu raksasa, ditelan banjir atau kebakaran, membeku dalam
nuklir musim dingin atau zaman es baru — manusia menatap akhir dunia
dengan rasa takut sekaligus tertarik sejak awal peradaban.
Fenomena
alam seperti siang yang berganti malam, atau empat musim silih berganti
telah mendorong ketakutan panjang bahwa manusia akan jatuh ke dalam
kegelapan abadi, atau musim dingin tak berujung.
"Sebelum
era agama-agama monoteis, peradaban paling kuno hidup dalam ketakutan
bahwa siklus kehidupan akan berhenti suatu hari nanti," jelas sejarawan
Bernard Sergent, penulis buku terbaru yang menjelajahi 13 mitos kiamat.
Kaum
Aztec percaya, ada kemungkinan bahwa setiap 52 tahun, matahari tidak
lagi terbit sehingga mereka mengorbankan manusia untuk memastikan
matahari tetap terbit.
Namun, bukannya dianggap akhir dunia,
sejarah kiamat sering dipandang sebagai cara untuk memulai dari awal,
membagi yang baik dan jahat untuk memulai kehidupan baru.
Kitab
Wahyu dalam Alkitab menggambarkan serangkaian peristiwa bencana yang
memusnahkan sebagian dari kehidupan di Bumi, yang mencapai puncaknya
dengan pengumuman kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali.
Sementara itu, Islam juga menjelaskan kisah tentang kiamat dengan badai pasir, perang atau kebakaran.
Wabah
penyakit, kelaparan dan perang brutal membuat Eropa pada Abad
Pertengahan tampak siap menghadapi kiamat. Mereka yakin dunia akan
berakhir pada tahun 1.000 Masehi, seperti yang diramalkan para peramal
kiamat satu milenium kemudian.
Pada awal Renaissance, Anabaptis
yakin akhir dunia sudah dekat, dan penting untuk dilakukan pembaptisan
ulang sebelum kiamat datang.
"Hal yang paling dipikirkan ketika
dihukum oleh para dewa, atau oleh alam, adalah pemberian hukuman karena
menentang kekuatan yang lebih tinggi," kata Jean-Noel Lafargue, penulis
penelitian tentang mitos akhir dunia sepanjang sejarah.
"Zaman
sekarang, kita tidak perlu lagi Tuhan untuk membuat kita takut. Bencana
akibat ulah manusia cukup membuat kita takut... Itulah yang berubah pada
abad ke-20."
Selama ribuan tahun, air adalah senjata ampuh yang sering digunakan.
Bagi
kaum Yahudi dan Kristen, banjir membangkitkan kisah Alkitab tentang
Bahtera Nuh. Meski demikian, cerita air bah yang dikirim kepada manusia
karena kemarahan Tuhan sudah ada dari zaman kuno.
Di Mesopotamia
semua mitos tentang banjir terjadi dari zaman Sumeria, antara tahun
keempat dan kedua milenium sebelum Masehi, seperti yang diceritakan
dalam Epos Gilgames, salah satu karya sastra paling awal yang bertahan.
Yunani
Kuno dan Romawi memiliki cerita mereka sendiri tentang banjir: mulai
dari banjir Ogyges (dinamai berdasarkan raja dari mitos) hingga
Atlantis, pulau legendaris yang ditelan oleh laut, seperti yang
diceritakan oleh filsuf Plato.
Menurut kitab Kejadian di Alkitab,
Tuhan memutuskan untuk membersihkan Bumi dari manusia dan binatang,
memerintahkan seorang manusia suci, Nuh, untuk membangun sebuah bahtera
untuk menyelamatkan dirinya dan sisa-sisa kehidupan.
Kebakaran biasanya terjadi sebelum atau setelah banjir.
Budaya
Yunani, Skandinavia, India dan suku asli Amerika semua berbicara
tentang pemusnahan awal umat manusia yang disebabkan kebakaran.
Afrika
dan Mesir kuno tidak memiliki mitos banjir, tapi cerita rakyat Afrika
Barat berbicara tentang "labu pemangsa" yang menelan seluruh pemukiman,
rumah, ternak, bahkan seluruh umat manusia.
"Saya pikir itu
bagian dari manusia, bagian dari jiwa manusia, untuk tertarik dengan
akhir dunia," kata Jocelyn Bell Burnell, profesor tamu astrofisika di
Oxford, kepada AFP.
Pada abad ke-21, kiamat — dalam layar kaca —
yang paling sering muncul adalah pandemi atau bencana iklim, tetapi para
peramal kiamat mungkin sudah menyediakan persediaan, karena semakin
dekatnya akhir dunia menurut kalender suku Maya, yang jatuh pada 21
Desember.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar